CATATAN KAKI UNTUK ARBITRASE INTERNASIONAL DAN DOMESTIK DI SINGAPURA

1 Sect. 3, Arbitration Act. 

 

2 Sect. 5 (1) IAA.

 

3 Sect. 3 (1) IAA.

 

4 Sect. 5 (3) (a) IAA menyatakan bahwa apabila suatu pihak mempunyai lebih dari 1 (satu) tempat usaha, maka tempat usaha adalah tempat usaha yang mempunyai hubungan paling dekat dengan perjanjian arbitrase. Sect. 5 (3) (b) IAA menyatakan bahwa apabila suatu pihak tidak mempunyai tempat usaha maka referensi pada tempat usaha harus diartikan sebagai referensi pada tempat tinggal.

 

5 Sect. 5 (2) IAA.

 

6 Harap lihat penjelasan lebih lanjut di bawah ini.

 

7 Mitsui Engineering and Shipbuilding Co Ltd v Easton Graham Rush and Another [2004] 2 SLR 14 (High Court).

8 Sect. 49, Arbitration Act.

 

9 Sect. 45, Arbitration Act.

 

10 Sect. 15 (1), IAA.

 

11 Sect. 5 (1) IAA, Sect. 15 IAA.

 

12 Sebagaimana diadopsi oleh UNCITRAL pada tanggal 28 April 1976; lihat ILM (1976) hal. 701 dan ICCA Yearbook Commercial Arbitration (selanjutnya disebut Yearbook) II (1977) hal. 161-171.

 

13 Akan tetapi para pihak bebas untuk menunjuk arbiter mereka sendiri apabila ditentukan di dalam perjanjian arbitrase.

 

14 Berdasarkan Gazette Notification No. 1656 dan No. 1653 yang diumumkan pada tanggal 2 Juli 2004; Sect. 8 (2) IAA dibaca bersamaan dengan Article 11 (3) dan (4) Model Law, IAA; Sect. 13, Arbitration Act.

 

15 SIAC akan mencari dan memilih kandidat yang tepat untuk menjadi arbiter, melakukan pemeriksaan apakah terdapat konflik kepentingan dan merundingkan serta menentukan biaya dengan arbiter.

 

16 SIAC akan, antara lain, bertindak sebagai perantara untuk pengumpulan dan pembayaran uang untuk kepentingan para pihak dan menyiapkan laporan rekening yang bersifat rutin dan memastikan bahwa arbiter mencatat jam kerjanya secara terus menerus dan lengkap.

 

17 Perubahan diperkenalkan melalui the Legal Professional (Amendment) Bill 2004 (B17/2004) yang disetujui oleh Parlemen pada tanggal 15 Juni 2004 dan berlaku efektif pada tanggal 14 September 2004.

 

18 Sect. 35 (1) Legal Profession Act.

 

19 Perubahan ini dibuat pada bulan Maret 1992 setelah adanya putusan Pengadilan Tinggi (High Court) dalam kasus Turner (East Asia) Pte Ltd v. Builder’s Federal (Hong Kong) Ltd & Anor. [1988] 2 MLJ 280.

 

20 Sect. 4 (1), Arbitration Act.

 

21 Sect. 4 (2), Arbitration Act, Sect. 4 (1) dan (2) Arbitration Act serupa dengan Art. 7 (1) Model Law.

 

22 Sect. 4 (3), Arbitration Act. Ketentuan ini serupa dengan Art. 7 (2) Model Law.

 

23 Sect. 2 (3) IAA; Sect. 4 (4) Arbitration Act.

 

24 Sect. 2 (4) IAA; Sect. 4 (5) Arbitration Act.

 

25 Klausula arbitrase yang umumnya digunakan adalah Klausula Arbitrase Model SIAC (SIAC Model Arbitration Clause):

 
“Setiap perselisihan yang timbul dari atau sehubungan dengan perjanjian ini, termasuk setiap pertanyaan tentang keberadaan, keberlakuan atau pengakhiran, harus diajukan dan diputuskan secara final oleh arbitrase di [Singapura] sesuai dengan Arbitration Rules of the Singapore International Arbitration Centre (“SIAC Rules) yang untuk saat ini berlaku yang aturan tersebut dianggap dimasukkan sebagai referensi pada klausula ini.”
Para pihak dapat menambah:
“Majelis arbiter terdiri dari ... arbiter yang diangkat oleh Ketua SIAC.”
“Hukum yang berlaku atas perjanjian ini adalah hukum substantif ....”
“Bahasa yang digunakan di dalam arbitrase adalah ....”

 

26 Art. 16 (1) Model Law, IAA, Sect. 21 (2) Arbitration Act.

 

27 Art. 16 (1) Model Law, IAA; Sect. 21 Arbitration Act.

 

28 Art. 16 (3) Model Law, IAA juncto Art. 6 Model Law dan Sect. 8 (1) IAA. Lihat pula Sect. 21 (9) Arbitration Act.

 

29 Apabila majelis menyatakan bahwa ia tidak mempunyai yuridiksi arbitrase, masalah tersebut berakhir di sana tanpa adanya upaya banding.

 

30 Sect. 10 IAA. Akan tetapi, Sect. 10 IAA lebih lanjut menyatakan bahwa penolakan Pengadilan Tinggi (High Court) untuk memberikan izin untuk banding ke Pengadilan Banding (Court of Appeal) tidak dapat diajukan banding. Harap dicatat bahwa tidak ada pembatasan tegas seperti ini di dalam Arbitration Act.

 

31 Sect. 6 Arbitration Act.

 

32 Sect. 6 (2) Arbitration Act.

 

33 Sect. 6 (2) IAA; Sect. 6 (4) Arbitration Act.

 

34 Sect. 6 (3) IAA; Sect. 6 (3) Arbitration Act.

 

35 Sect. 6 (4), IAA.

 

36 Bahwa arbiter tidak mempunyai kualifikasi yang disetujui oleh para pihak adalah salah satu dasar penunjukan arbiter dapat ditentang: Art. 12 (2) Model Law dan Sect. 14 (3) (b) Arbitration Act.

 

37 Art. 11 (1) Model Law, IAA.

 

38 Banyak arbiter yang adalah anggota Singapore Institute of Arbitrators dan/atau Chartered Institute of Arbitrators di London walaupun keanggotaan pada institusi tersebut di atas tidak merupakan syarat untuk dapat bertindak sebagai arbiter.

 

39 Sect. 14 (1), Arbitration Act.

 

40 Art. 12 Model Law, IAA.

 

41 Rule 11.3 SIAC Rules.

 

42 Sect. 14 (2) Arbitration Act, Art. 12 (1) Model Law, IAA.

 

43 Sect. 14 (3) Arbitration Act, Art. 12 (2) Model Law, IAA.

 

44 R v. Bow Street Metropolitan Stipendiary Magistrate and Ors Ex parte Pinochet Ugarte (No. 2) [1999] 2 WLR 272.

 

45 Jeyaratnam Joshua Benjamin v. Lee Kuan Yew [1992] 2 SLR 310, setelah adanya tes yang didasarkan pada kasus Inggris R v. Liverpool City Justices ex p. Topping [1983] 1 WLR 119; Turner (East Asia) Pte Ltd v. Builders Federal (Hong Kong) Ltd & Anor [1988] SLR 532.

 

46 Sect. 12 (2) Arbitration Act; Sect. 9 IAA dan Rule 6 SIAC Rules. Harap dicatat bahwa Sect. 9 IAA memodifikasi Art. 10 (2) Model Law.

 

47 Sect. 19 Arbitration Act dan Art. 29 Model Law, IAA mensyaratkan bahwa putusan arbitrase diberikan oleh mayoritas arbiter. Kadang-kadang terjadi bahwa para pihak menyetujui dua arbiter dan selanjutnya setuju bahwa apabila kedua arbiter tidak setuju maka permasalahan tersebut akan dirujuk kepada orang ketiga yang bertindak sebagai wasit. Akan tetapi dalam praktik, hal ini sangat tidak lazim. Mungkin pula terjadi (walaupun jarang) bahwa majelis arbiter yang terdiri dari jumlah arbiter ganjil gagal mencapai putusan dengan suara mayoritas apabila masing-masing arbiter mempertahankan pandangan dan putusannya masing-masing. SIAC Rules menyatakan bahwa dalam keadaan demikian, putusan dari arbiter yang mengepalai majelis itu yang mengikat (Rule 28.3 SIAC Rules).

 

48 Sect. 13 (3) (b) Arbitration Act, Art. 11 (3) (b) Model Law, IAA juncto Art. 6 Model Law dan Sect. 8 (2) IAA.

  

49 Rule 7 dan 8 SIAC Rules.

 

50 Sect. 9A IAA.

 

51 Sect. 13 (4) Arbitration Act, Sect. 9A IAA.

 

52 Supra catatan 13. Sect. 13 (5) Arbitration Act; Art. 11 (4) Model Law, IAA.

 

53 Art. 11 (5) Model Law, IAA.

 

54 Sect. 13 (7) Arbitration Act menyatakan bahwa “Penunjukan oleh badan yang berwenang untuk menunjuk tidak dapat ditentang kecuali berdasarkan Undang-Undang ini”.

 

55 Sect. 23 (1) Arbitration Act; Art. 19 (1) Model Law, IAA.

 

56 Sect. 23 (2) Arbitration Act; Art. 19 (2) Model Law, IAA.

 

57 Sect. 24 IAA; Art. 23 Model Law, IAA.

 

58 Rule 17 SIAC Rules.

 

59 Art. 24 (1) Model Law, IAA; Sect. 25 Arbitration Act.

 

60 Rule 22.1 SIAC Rules.

 

61 Sect. 2 (1), Evidence Act Cap. 97.

 

62 Art. 19 (2) Model Law, IAA; Sect. 23 (3) Arbitration Act.

 

63 Sect. 28 (2) Arbitration Act.

 

64 Disebutkan di dalam Sect. 12 IAA.

 

65 Sect. 12 (g) IAA dan Sect. 12 (1) (e) IAA. Tidak ada wewenang arbiter yang serupa berdasarkan Arbitration Act. Hanya Pengadilan Tinggi (High Court) yang mempunyai wewenang untuk memberikan larangan sementara dan/atau setiap upaya atau perintah sementara lainnya untuk mengamankan jumlah uang dalam perselisihan: Sect. 31 (1) (b) dan (d) Arbitration Act.

 

66 SIAC Trust Account.

 

67 Rule 25 (g) SIAC Rules; Sect. 12 (1) (d) IAA; Sect. 28 (2) (g) Arbitration Act.

 

68 Sect. 12 (5) IAA; Sect. 28 (4) Arbitration Act.

 

69 Sect. 12 (6) IAA; Sect. 31 (1) (a) Arbitration Act.

 

70 Tidak ada ketentuan serupa di dalam IAA.

 

71 Sect. 2 (1) IAA; Sect. 2 (1) Arbitration Act.

 

72 Sect. 28 Arbitration Act dan Sect. 12 IAA.

 

73 Sect. 46 Arbitration Act; Sect. 19 IAA.

 

74 Seorang arbiter yang bertindak berdasarkan Arbitration Act yang lalai menggunakan upaya yang beralasan dalam memberikan putusan dapat diberhentikan oleh pengadilan, dengan ketentuan bahwa dapat ditunjukkan bahwa keterlambatan menyebabkan ketidakadilan yang substansial pada pihak yang mengajukan pemberhentian arbiter itu. Lihat Sect. 16 (1) (b) Arbitration Act.

 

75 Sect. 36 Arbitration Act.

 

76 Rule 28.1 SIAC Rules.

 

77 Art. 31 (1) Model Law, IAA; Sect. 38 (1) (b) Arbitration Act; Rule 28.3 SIAC Rules.

 

78 Sect. 38 (2) Arbitration Act; Art. 31 (2) Model Law, IAA.

 

79 Art. 31 (3) Model Law, IAA; Sect. 38 (3) Arbitration Act.

 

80 Di dalam praktik, apabila putusan arbitrase melibatkan para pihak dari yurisdiksi yang berbeda, sertifikat pengesahan dilampirkan pada putusan arbitrase untuk memudahkan pelaksanaan berdasarkan New York Convention 1958.

 

81 Sect. 19 B (3) IAA dan Sect. 44 (3) Arbitration Act menyatakan bahwa putusan arbitrase dibuat pada saat it “ditandatangani dan diserahkan” sesuai dengan Art. 31 Model Law dan Sect. 38 Arbitration Act.

 

82 Sect. 44 (1) Arbitration Act; Sect. 19B IAA.

 

83 Art. 33 (1) (a) Model Law, IAA; Sect. 43 (1) (a) Arbitration Act.

 

84 Art. 33 (1) dan (2) Model Law; Sect. 43 (1) Arbitration Act; Rule 29.1 dan 29.2 SIAC Rules.

 

85 Art. 33 (4) Model Law, IAA; Sect. 43 (6) Arbitration Act. SIAC Rules tidak mengatur tentang masalah perpanjangan jangka waktu.

 

86 Art. 33 (1) Model Law, IAA; Sect. 43 (2) Arbitration Act.

 

87 Art. 33 (3) Model Law, IAA; Sect. 43 (4) Arbitration Act; Rule 29.3 SIAC Rules.

 

88 Rule 29.3 SIAC Rules.

 

89 Art. 33 (3) Model Law, IAA; Sect. 43 (5) Arbitration Act.

 

90 Sect. 49 Arbitration Act. Tidak ada upaya banding yang diperbolehkan berdasarkan IAA.

 

91 Sect. 49 (2) Arbitration Act. 

 

92 Sect. 50 (3) Arbitration Act.

 

93 Sect. 49 Arbitration Act.

 

94 Upaya hukum tersebut adalah perbaikan atau penafsiran putusan dan putusan tambahan. Sect. 50 (2) Arbitration Act.

 

95 Sect. 48 Arbitration Act.

 

96 Art. 34 Model Law, IAA. Berdasarkan IAA, Pengadilan Tinggi (High Court), sebagai tambahan dari dasar-dasar yang terdapat di dalam Model Law, dapat menyampingkan suatu putusan arbitrase apabila pemberian putusan tersebut dipengaruhi oleh penipuan atau korupsi atau pelanggaran aturan keadilan umum yang terjadi sehubungan dengan pemberian putusan arbitrase yang menyebabkan hak-hak salah satu pihak telah terpengaruhi. Lihat Sect. 24 IAA.

 

97 Putusan-putusan arbitrase berdasarkan IAA: Art. 34 (3) Model Law, IAA, Order 69A, Rule 2 (4), Rules of Court 1996; Putusan Arbitrase berdasarkan Arbitration Act: Sect. 48 (2) Arbitration Act, Order 69, Rule 2 (1) Rules of Court  96.

 

98 Sect. 46 (1) Arbitration Act.

 

99 Sect. 19 IAA.

 

100 Sedangkan untuk prosedur, lihat Order 69 dan Order 69A, Rules of Court 1996.

 

101 Order 69A, Rule 3 (3) Rules of Court 1996.

 

102 Order 57, Rule 4 Rules of Court.

 

103 Sect. 6, Undang-Undang Pembatasan (Limitation Act) Cap. 163.

 

104 Order 69A, Rule 6 Rules of Court 1996.

 

105 Order 57, Rule 4 Rules of Court 1996.

 

106 Order 57, Rule 15 Rules of Court 1966.

 

107 Sect. 36 (1) Supreme Court of Judicature Act Cap. 322.

 

108 Para. 254 of Michael Hwang S.C. and Andrew Chan’s Singapore Chapter in Michael Moser, gen. ed., Arbitration in Asia (Butterworths 2001).

 

109 Termasuk alasan-alasan adanya penipuan, korupsi dan pelanggaran keadilan umum sebagai dasar-dasar tambahan untuk menyampingkan putusan arbitrase berdasarkan IAA.

 

110 Apabila suatu tindakan muncul dari putusan arbitrase tentang putusan penyelamatan (salvage award) atau klaim berdasarkan sewa kapal (charterparty), ia berada dalam yurisdiksi perairan dan perkapalan (Admiralty jurisdiction) Pengadilan Tinggi (High Court) dan tindakan in rem dapat diambil. Lihat Alexander G Tsavliris & Sons Maritime Co v. Keppel Corp Ltd [1995] 2 SLR 113.

 

111 Sect. 19 IAA dibaca bersama Sect. 29 IAA.

 

112 Sect. 29 (2) IAA.

 

113 Sect. 6 (1) (c) Limitation Act Cap. 163.

 

114 Order 69A, Rule 6 (4) Rules of Court 1996.

 

115 Order 69A, Rule 6 (4), Rules of Court. Alasannya di sini adalah untuk memberikan kesempatan kepada debitor untuk melawan pelaksanaan putusan arbitrase berdasarkan Art. V Konvensi sebagai perintah pertama yang telah diperoleh secara ex parte tanpa mendengarkan debitor.

 

116 Sect. 31 (2) IAA menyebutkan sebagai berikut:

 

Pengadilan apabila diminta dapat menolak pelaksanaan putusan arbitrase asing apabila pihak yang dimintakan pelaksanaan putusan tersebut membuktikan secara memuaskan kepada pengadilan bahwa:

(a) salah satu pihak pada perjanjian arbitrase yang berdasarkan mana putusan arbitrase telah diberikan, berdasarkan hukum yang berlaku baginya, tidak mempunyai kecakapan tertentu untuk bertindak pada saat perjanjian dibuat;

(b) perjanjian arbitrase tidak berlaku berdasarkan hukum yang dipilih oleh para pihak atau dalam hal tidak adanya indikasi sehubungan dengan hal tersebut, berdasarkan hukum negara di mana putusan arbitrase dibuat;
(c) pihak tersebut tidak diberikan pemberitahuan yang layak tentang penunjukan arbiter atau tentang proses arbitrase atau tidak dapat menyampaikan perkaranya di muka persidangan arbitrase;
(d) dengan tunduk pada subsection (3), putusan menyangkut perbedaan yang tidak dimaksudkan atau tidak dalam ketentuan penyampaian perselisihan kepada arbitrase atau mengandung putusan atas hal yang berada di luar ruang lingkup penundukan diri pada arbitrase;
(e) susunan badan arbitrase atau prosedur arbitrase tidak sesuai dengan perjanjian para pihak atau dalam hal tidak adanya perjanjian tersebut, tidak sesuai dengan hukum negara di mana arbitrase dilaksanakan; atau
(f) putusan belum mengikat para pihak pada putusan arbitrase atau telah disampingkan atau ditangguhkan oleh badan yang berwenang di negara di mana atau berdasarkan hukum negara di mana putusan arbitrase dibuat.”

 

117 Pengadilan Singapura harus menolak pelaksanaan putusan Konvensi. Sejak Desember 1994, sudah ada lebih dari 30 (tiga puluh) putusan arbitrase yang dilaksanakan.

 

118 Sect. 29A Supreme Court of Judicature Act (Cap. 322).

 

119 Sect. 46 (1) dibaca bersama 46 (3) Arbitration Act.

 

120 Cap. 11, Rule 1. ICSID Convention telah diberikan kekuatan pelaksanaan yang bersifat wajib dalam Arbitration (International Investment Disputes) Act (Cap. 11)).

 

121 Cap. 322, Rule 5; Rule 2 (2) of the Arbitration (Inetrnational Investment Disputes) Rules menyatakan bahwa Order 67 Rules of Court (1997 ed.) harus berlaku, dengan penyesuaian sebagaimana mestinya, terhadap putusan yang dibuat berdasarkan ICSID Convention sebagaimana ia berlaku untuk setiap putusan yang dibuat berdasarkan Part II of the Reciprocal Enforcement of Foreign Judgments Act Cap. 265 (”REFJA”). Order 67 dari Rules of Court (1997 ed.) menyebutkan prosedur pendaftaran putusan asing yang terkait dengan REFJA.

 

122 Reciprocal Enforcement of Commonwealth Judgments (Extension) (Consolidation) Notification NI, 1999 Rev. Ed. menyebutkan teritori yang tercakup dalam Undang-Undang tersebut. Untuk Australia, lihat Pernyataan (Declaration) berdasarkan Sect. 5 (Cap. 264, Declaration 1) (24 September 1993).

 

123 Undang-Undang Pelaksanaan Timbal Balik Putusan Persemakmuran (Reciprocal Enforcement of Commonwealth Judgments Act) Cap. 264 (”RECJA”).

 

124 Prosedur ini masih diperlukan untuk negara-negara seperti Pakistan yang bukan negara penandatangan New York Convention.

 

125 Sect. 3, RECJA.

 

126 Sect. 3 (2), RECJA.

 

 

 

 


© 2007 Singapore Academy Of Law. All Rights Reserved.  Sitemap  Terms of Use  Disclaimer